Tampilkan postingan dengan label Cerita Seks. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Seks. Tampilkan semua postingan

Sensasi Pembantu


 Sambil menunggu kberangkatan pegawai di toko tanteku yg ingin pulang kampung dan menikah, Nakim sementara tinggal dirumahku.
Nakim memiliki tubuh yg tegap,dgn tinggi 155cm dan usia yg baru 14 tahun.
Walaupun agak pendiam,Nakim tergolong anak yg penurut dan rajin.
Sikap Nakim yg santun, mau belajar dan bertanya membuat istriku senang dgn kehadiran Nakim dirumah. Apalagi terkadang sifat lugu si Nakim kerap membuat istriku tertawa.
Akupun simpatik dgn sikap dan sifat Nakim, sehingga aku tak sungkan utk ikut menyiapkan keperluan Nakim sebelum nanti berangkat kerumah tanteku.
Baju kaos,kemeja, celana panjang, sampai celana pendek, entah baru dibeli maupun bekas dimasukkan ke kardus agar bisa Nakim bawa saat berangkat nanti.
Tak ada hal yg negatif yg muncul dari kehadiran Nakim dirumahku. Andaikata ada, mungkin itu adalah tatapan Nakim yg agak tajam saat menangkap belahan dada istriku yg kadang tak sengaja terlihat saat membungkuk.
Sering kutangkap moment itu yg kemudian membuatku akhirnya bertanya pada istriku.
Ternyata istriku pun tahu dan juga menceritakan kejadian di siang hari waktu Nakim naik keatas bangku utk mengganti lampu dapur, dimana kala itu istriku yg memegangi bangkunya. Bisa kubayangkan apa yg dilihat Nakim, apalg kaos ketat dgn bagian dada rendah adalah kostumnya saat itu.
Tambah lagi dgn Senyum dan cubitan istriku saat bercerita, jadi tanda bhw hal2 tadi terkadang juga disengaja oleh istriku.
“Jgn marah ya,pa..abis lucu liat mukanya”,goda istriku.Aku cuma bisa mesem saja.
Hal itu membuatku juga jd iseng mau mengetes si Nakim.
Suatu malam,istriku sudah tidur duluan dikamarnya, seperti biasa Nakim dan aku msh menonton Tv.
“bosen ya,kim..acaranya gini2 aja”,ujarku santai.
“iya yah,mas..aku jg ga ngerti film’nya nyeritain apa”,sahut Nakim.
“kita nyetel DVD aja ya,kim”,kataku sambil bangkit dr dudukku.
“emang pilem apa,mas ?”,tanya Nakim dgn nada bersemangat.
“pilem org gede..”,jwbku sambil nyengir.
Nakim manggut2 saja, tp kulihat ada tanda paham dari wajahnya.
Ku setel salah satu koleksi Miyabi ku dan ambil posisi duduk bersampingan dgn Nakim.
Kusulut sebatang rokok berbarengan dgn adegan film yg sudah dimulai.
Maria Ozawa yg cantik mulai berlenggak lenggok di layar kaca, menunjukkan keseksiannya didepan dua orang laki2 sbg ‘lawan’nya di film ini.
Ada rasa lucu didalam pikiranku,sejak 20menit film berjalan, Nakim diam saja, matanya tak lepas dari Tv didepannya, apalg saat adegan blow job yg ditampilkan sang Miyabi, nafas Nakim kulihat agak berat, kedua kakinya menjepit rapat.
“pernah nonton pilem ginian ga,kim ?”,ujarku menyela.
“udah pernah,mas..dulu dirmh temen, tp artisnya orang barat”,jwb Nakim tetap dgn nada yg sopan.
“ooh,baguslah..ga pa2 kok,udah gede”,jwbku cepat.
Nakim kembali lagi menatap layar Tv, kini terlihat sang artis sdg menikmati jilatan pada vagina’nya sambil terus memberi blow job. Untuk melayani dua org laki2, artis satu ini termasuk sudah sangat berpengalaman.
“suka ngocok,kim ?”,tanyaku langsung saja.
Nakim agak kaget mendengar pertanyaanku,tp ia tetap brusaha tersenyum.
“eh iya, mas..pernah”,jwb Nakim agak malu.
“kamu ampe ngempet gt”,ujarku pelan.
Nakim spontan membuka kakinya. Kulihat ia berusaha menutupi rasa malunya dgn merapikan posisi duduknya menjadi bersila.
“ga apa2,kim..mas juga dulu gitu”,ujarku santai.
Nakim pun tersenyum lagi dan mengangguk pelan.
Selanjutnya kuciptakan obrolan akrab agar dia tak grogi, skalian mengorek kebiasaan serta berapa besar ketertarikan Nakim trhadap yg namanya seks.
Sengaja kuselipkan sosok istriku dalam obrolan utk melihat respon si Nakim. Dan saat kubahas mengenai buah dada istriku yg montok,kulihat Nakim manggut2 sambil nyengir.
“pasti kamu pernah ga sengaja liat, kim”,pancingku pada Nakim.
“iya,mas..emang montok”,jwb Nakim pelan.
Aku dan Nakim pun tertawa kecil.
“penasaran ya,kim”,godaku sambil nyengir.
Nakim tak menjawab, tp cengiran’nya sudah jadi tanda bhw ia setuju dgn ucapanku.
Kulanjut obrolanku supaya Nakim bisa tambah berani mengungkapkan gairah seksnya.
Dari situ akhirnya aku tahu kalau dia sering onani, dan sering ngintip sepupu perempuannya waktu di kampung. Walau demikian,dia belum pernah ML dgn gadis manapun alias masih perjaka. Lain cerita kalau meraba payudara, biarpun agak malu2, ia mengakui pernah meremas payudara seorang gadis yg jadi temannya mengaji waktu di kampung ada hajatan yg menggelar layar tancap.
Dan yg terpenting dan terdengar agak menggelitik adalah saat ia menceritakan istriku yg pernah memakai tanktop tanpa bra sehingga puting susunya terlihat menantang.
Aku tersenyum mendengar cerita itu dan yakin sekali kalau kejadian itu pasti disengaja istriku.
“ga apa2,kim..ga usah malu, yg penting kamu kan ga kurang ajar, yg namanya keliatan, ya nikmati aja”,ujarku dgn nada dewasa agar Nakim tdk kuatir dgn apa yg telah ia ceritakan kepadaku.
“kamu berarti hobi ngintip ya?”,kataku melanjutkan obrolan.
“yah,itu juga kalo ada sela’nya,mas”,jwb Nakim yg nampak lbh santai dari sebelumnya.
Aku tersenyum dan otakku terinspirasi jawaban si Nakim.
“hbs nonton ginian juga pasti langsung ngajakin mbaknya maen”,ujarku sambil menyulut lg rokokku.
Nakim nyengir lebar,”ya iyalah,mas”
Aku bangkit kearah Tv, kumatikan film yg sedang berlangsung, Nakim menatapku tak mengerti, apalg saat kumatikan semua lampu2 yg biasa padam diwaktu malam.
Setelah itu kududuk lg disebelah Nakim yg masih bengong.
“mas mau masuk kamar yah..nanti pintu kamar ga aku tutup semua”,ucapku setengah berbisik.
Nakim agak terkejut, jelas sekali ia tak menyangka dgn apa yg ku ucapkan.
“tapi,mas..”,jwb Nakim ragu2.
“ga apa2, udah gede, biar tahu caranya”,sahutku dgn nada dewasa.
Nakim mengangguk pelan. Aku pun mengedipkan mataku agar Nakim bisa kembali rileks. Kumatikan rokok yg baru kunyalakan tadi di asbak dan bangkit berjalan masuk ke kamar tidur.
Kubangunkan istriku dgn kecupan lembut disertai dgn belaian dirambutnya.
“Mama,aku pengen nih”,bisikku sambil mencumbu lehernya.
Sambil menggeliatkan tubuhnya, istriku menoleh kearah pintu yg setengah terbuka. Aku tahu itu dan segera mengedipkan mata,memberi kode kepada istriku. Satu cubitan kecil jadi pertanda bhw ia mengerti maksudku. Perlahan diraih bahuku dan mulai menenggelamkan diri kedalam permainan.
Sambil mengulum bibir istriku kubuka kancing baju tidurnya satu persatu dan dgn perlahan kepalaku mulai turun ke dadanya.
Kujelajahi daging kenyal yg montok milik istriku dgn menjilati kulit halusnya, pelan tapi pasti hingga akhirnya terpusat ke puting susunya yg tegang terangsang.
Belum kulihat ada tanda2 org mengintip dari arah pintu kamar, sementara itu nampaknya istriku sudah mulai membalas rangsanganku dgn gigitan2 kecil didadaku dan beringsut makin kebawah.
Kuambil posisi duduk bersandar pada tumpukan bantal saat istriku mulai menjilati perutku dan perlahan menurunkan celana pendek yg kukenakan.
Rasa gemas dan gairah membuatku tak sabar, kuloloskan saja sekalian celana yg kupakai hingga kini tampaklah penisku yg tegang menantang.
Merespon tindakanku, istriku pun mulai melancarkan serangannya pada batang penisku.
Diawali dgn satu jilatan kecil yg menyapu lendir bening dikepala penis, disusul dgn jilatan lembut pada bagian batang hingga kebawah, istriku memulas penisku dgn mulutnya sedemikian telaten hingga kemudian dgn lembut ia memasukkan penisku kedalam mulutnya.
Dgn perlahan kepala istriku pun mulai turun naik, jilatan2 kecil diujung kepala penis didalam mulutnya,tambah lagi hisapan lembut dari mulutnya membuatku terlena.
Mungkin itulah yg membuatku baru tersadar bhw dipintu kamar sudah ada sepasang mata yg mengintip permainanku dgn istri.
Kurasa istriku lebih dulu menyadari itu sehingga ia memberiku cubitan khasnya sambil terus melakukan blow job.
Lenguhan dari mulut istriku yg melumat penisku, diiringi rasa nikmat yg kurasakan mengembalikan fokusku pada permainan.
Kuangkat kepala istriku agar bisa kulumat bibirnya, tanganku kembali bermain di dadanya yg kini terbuka dan nampak begitu menggairahkan tertimpa cahaya lampu tidur yg remang2.
Desahan istriku pun terdengar hebat, apalg saat mulutku kembali merangsang puting susunya yg kenyal. Nampak tangan istriku perlahan menurunkan celana tidurnya.
Tanganku cepat kebawah menyambut gairah istriku, belahan vaginanya yg basah kini jadi sasaran jari2 ku.
Dengan puting dihisap dan permainan jariku di vagina’nya,istriku terus mendesah sambil meremas rambutku.
“pa, udah dong, kapan nih”,tiba2 istriku merajuk.
Tak segera menjawab, kusempatkan mataku utk melirik kearah pintu, satu bayangan kepala kulihat disana. Aku yakin Nakim sudah betah dgn apa yg diintipnya.
Dorongan kecil membuat tubuhku kembali tersandar di tumpukan bantal dibelakangku.
Istriku melumat bibirku dgn nafsu. Tubuhnya menyusun posisi, dan tekanan telapak tangannya didadaku seakan-akan melarangku bergerak. Perlahan dalam cumbuan istriku, kurasakan satu liang lembab dan hangat kini perlahan menelan batang penisku, memulas dgn denyutnya, terus kebawah hingga masuk seluruhnya.
Aku menarik nafas sambil bersiap untuk menerima penetrasi.
Dgn tatapan lembut dan menantang, istriku pun mulai menari. Naik turun pinggulnya benar2 membuatku serasa jadi raja.
Tak segan tanganku meraih buah dadanya yg tersentak-sentak akibat gerakan tubuhnya.
Sesekali istriku terhenti dan menarik kepalaku ke dadanya sambil menekan penisku dalam2 ke vaginanya, saat itulah didalam vagina’nya, penisku seperti dilumuri lendir hangat. Beberapa saat istriku seperti melayang dalam nikmatnya utk kemudian mengayun lagi.
Melihat peluh istriku yg menetes didorong juga oleh hasrat ingin membalas, kupeluk istriku, kuatur kedua kakinya dan perlahan kuarahkan ia agar berbaring. Dan akupun mulai bekerja.
Dengan irama yg teratur, diselingi sentakan dan tekanan pada vagina istriku, kubuat istriku makin terlena.
“papa, ayo bareng2?,ucap istriku merajuk.
“iya,sayang..bentar yah”,jwbku sambil mencium kening istriku.
Tetap kuteruskan ayunan pinggulku, ku lesakkan terus menerus penisku ke vagina’nya.
Sampai pada satu titik, kurebahkan dadaku hingga menempel di dada istriku, kuatur kakiku lurus sejajar dgn istriku.
Istriku mengerti dan memeluk pinggangku dgn kedua tangannya.
Dgn gerakan yg seirama, kami berdua berjuang mencari satu titik yg sama.Titik yg jadi final dari tiap percintaan. Dan saat kami menemukan, kami berdua pun terbang bersama-sama, beberapa saat kami seperti lupa dan terus menikmati sampai akhirnya mereda.
Kecupan kecil dikening istriku sudah jadi kbiasaan yg kulakukan tiap selesai bercinta.
Perlahan ku turun dari tubuh istriku yg masih terkulai lelah. Sambil memberi selimut, kukedipkan mata kepada istriku sambil beranjak keluar.
“aku ke kamar mandi duluan ya,ma”,suaraku agak lantang mengiringi langkahku menuju pintu kamar.
Diluar kamar,ternyata Nakim sudah berdiri didepan pintu kamar mandi menungguku.
“gimana,kim?”,tanyaku berbisik.
Nakim tak mau bersuara krn takut terdengar, dia hanya mengangkat jempolnya sambil menunjukkan wajah salut.
Aku mengerti dan pasang senyum,”ya udah, tidur gih, besok aja bahasnya”,ucapku masih berbisik. Nakim mengangguk, pelan2 dia masuk ke kamarnya sendiri.Tak lupa ia agak membungkuk sbg tanda dia pamit masuk kamar.
Tak berlama-lama lagi kuteruskan niatku ke kamar mandi, disusul oleh istriku yg juga mau bersih2. Baru kemudian kembali ke kamar dan tidur.
Selang seharian aku tetap berangkat kerja seperti biasa sehingga blm sempat menanyakan kesan dan komentar Nakim atas kejadian semalam. Namun saat jam makan siang lewat telpon istriku menjelaskan kalau sikap Nakim tampak biasa saja, malah jadi lebih malu2 dibanding sebelumnya.
“pokoknya kamu tenang aja,pa..ini aku habis ngetes lagi nih”,ujar istriku ditelpon.
“ngetes apaan ?”,tanyaku heran.
“pokoknya nanti pulang aku kasih tau kamu”,jwb istriku singkat sebelum pembicaraan lewat telepon ini berakhir.
Sekitar pukul setengah enam aku sampai rumah,setelah mandi dan makan, istriku meminta diantar ke apotik utk membeli antibiotik, sementara itu kulihat Nakim bersikap seperti biasa.
Setelah belanja obat,istriku mengajak aku mampir utk minum es campur kesukaannya.
Sambil menikmati es campur, istriku pun bercerita bhw tadi siang dia sengaja memakai kaos ketat tanpa bra dan nonton Tv bersama Nakim.
Dan istriku pura2 tertidur diatas kasur tipis didepan Tv,dimana ia sengaja mengatur posisi terlentang agar bagian dadanya yg tanpa bra bisa terlihat oleh Nakim.
Dan dlm posisi pura2 tidur itulah istriku membiarkan Nakim yg ternyata berani membelai dada istriku. Menurut istriku, Nakim cukup lama membelai dada dan memainkan puting istriku yg menonjol di kaos ketatnya.
Istriku bercerita dgn nada lucu, sehingga aku jadi ikutan tertawa.
“nah,kamu nakal yah”,godaku pada istri.
“habis anaknya ngegregetin”,sahut istriku mencibir.
“huuu, demen yah”,kataku sambil mencubit dagu istriku.
“kaya ga cemburu aja kamunya”,jwb istriku cepat.
“tergantung..”,ucapku sambil menatap wajah istriku.
“tergantung apaan?”,tanya istriku.
“tergantung kamu ngapain”,sahutku nyengir.
“alaaa,nanti kamu ngambek”,goda istriku.
“emang kamu mau ngapain?”,tanyaku.
Istriku tertawa kecil. Dan matanya menatap ke wajahku lamat2.
“papa maunya aku ngapain?”,tanya istriku sambil senyum menggodaku.
“wah,ga tau ya,ma..”,jwbku bingung.
“emang kalo aku ngapa2in,kamu ga marah?”,tanya istriku masih dgn nada menggoda.
“marah dong, apalagi aku ga tau”,jwbku cepat.
“kalo kamunya tau, boleh dong?”,tanya istriku makin berani.
Aku tak menjawab dan mengajak istriku bergegas pulang. Istriku tertawa menggodaku, aku pun ikut tertawa.
Sampai dirumah, Nakim spt biasa membukakan pintu,menyambut kami dgn santunnya. Setelah kejadian tadi malam apalg tadi siang, Nakim nampak pandai dalam bersikap.
Setelah menutup pintu pagar, Nakim langsung sigap menyapu teras rumah.Kususul istriku yg sudah masuk ke kamarnya.
Senyumanku dibalas cibiran oleh istriku. Kulihat ia bersiap utk mandi. Baju tidur model terusan berbahan lembut sudah ia siapkan ditepi ranjang.
“ma, kamu nanti pura2 mabuk bisa ga?”,tanyaku sambil senyum.
“pura2 mabuk gimana?”,ucap istriku bingung.
“pura2 mabuk obat perangsang gitu..jd kamu kaya fly, tp tetap ada respon”,jelasku tetap mengulum senyum.
Istriku tampak berpikir sebentar utk mencerna kalimatku.
“maksud kamu buat…”,istriku berujar agak sangsi.
“ya iyalah, pokoknya kalo nanti kamu disuguhin teh manis, selang berapa menit, kamu awali dgn pusing aja”,jwbku cepat.
Istriku nyengir, cubitannya pun mulai beraksi.
“tapi kan susah juga lho,pa”,ujar istriku.
“ga usah ribet, targetnya juga ga ngerti kok soal mabuk2 gitu”,jwbku.
“pokoknya kamu atur setelah minum teh manis,ok”,kataku sambil mencolek dagu istriku.
Istriku mencibir dan mulai bergegas utk mandi. Akupun menghampiri meja rias di kamar utk mencari botol obat tetes mata yg terakhir kulihat sudah hampir habis.
Dengan cepat kubawa botol kecil itu ke dapur, segera kucuci bersih dan kuganti isinya dgn air putih biasa.
Selesai itu, dgn langkah cepat, kuhampiri Nakim yg sekarang sedang mengepel lantai teras depan.
“Kim, bentar deh”,panggilku dgn nada santai.Nakim pun menghampiri.
“habis ini kamu bikinin teh manis buat mbak, bisa kan?”,tanyaku agak berbisik.
“bisalah,mas”,jwb Nakim cepat.
“Nah, kamu masukin ini kedalam teh manisnya”,tambahku sambil memberikan botol kecil bekas obat tetes mata kepada Nakim.
“apaan nih,Mas?”,tanya Nakim heran.
“obat perangsang,udah..lakuin aja,ok”,jwbku singkat.
Nakim masih ragu tapi senyum tipis terlihat saat mendengar jawabanku.
“oke deh,mas”,kata Nakim sambil manggut2.
“tuang aja semua, biar makin mantep”,ujarku menambahkan.
Nakim mengangguk tanda mengerti dan memasukkan botol kecil tadi ke saku celananya.
Akupun masuk kedalam rumah dan duduk didepan Tv,tak berapa lama terdengar suara langkah istriku keluar dari kamar mandi yg kemudian menuju ke kamar tidur.
Dari teras depan, Nakim langsung ke dapur, tak lama kemudian terdengarlah suara sendok mengaduk pertanda Nakim telah membuat teh manis utk disuguhkan ke istriku.Diletakkan teh manis tadi diatas meja makan sambil mengangkat jempolnya kepadaku. Aku mengangguk sambil tersenyum.
Tak lama kemudian, muncullah istriku dgn baju tidur terusan bertali kecil dan berwarna pink yg tadi ia sudah siapkan.
“wah,Nakim tau aja..belum diminta,udah dibikinin”,ucap istriku segar mengomentari segelas teh manis hangat diatas meja.
“iya,mbak..”,jwb Nakim agak tersendat. Matanya melirik sebentar kepadaku.Kubalas lirikannya dgn satu kedipan mata.
Kulihat istriku pelan meminum teh manis buatan Nakim yg masih agak panas. Belum habis semua, dibawanya gelas teh itu dan duduk disampingku.
Kusetel Tv utk memberi kesan santai.
“kita nonton Tv,kim..”,ajakku dgn nada rileks.
Nakim senyum dan ikut duduk agak jauh dariku,matanya tertuju kearah Tv sambil sesekali melirik istriku yg juga menatap Tv sambil meminum teh manis sedikit demi sedikit.
Bra merah yg terbungkus baju warna pink menampakkan kesan seksi pada penampilan istriku malam ini.Kurasa itu juga yg jadi perhatian Nakim saat melirik istriku, apalg mengingat tadi siang ia sudah meraba dada istriku yg pura2 tertidur, pasti sensasinya masih terbayang di benak Nakim.
Istriku melirik kearahku saat segelas teh manis di tangannya telah habis ia minum.Sebentar ia bangkit ke dapur utk menaruh gelas kosong ditempat cucian piring, dan kembali duduk disampingku sambil terus menatap acara Tv didepannya.
Kulirik Nakim yg kurasa juga melihat hal itu, dan kini yg kulakukan adalah menunggu istriku beraksi.
Kurang lebih 15menit kemudian, istriku pun memulai.
“kepalaku kok puyeng ya,pa”,ujar istriku
“kok bisa?”,sahutku pendek sambil melirik Nakim.Nakim pun menatapku.
Perlahan istriku menyandarkan kepalanya dibahuku.
“pijitin kepalanya,pa”,ucap istriku dgn nada merajuk.
Kuatur posisi agar bisa menunaikan permintaan istriku. Kupijat keningnya pelan dan sementara sengaja kuatur sedemikian rupa menggeser-geser tali kecil baju tidur istriku agar lolos dari pundaknya.
Sesekali kulirik Nakim yg dari wajahnya sudah mulai tegang.Apalg waktu tali kecil dipundak istriku lolos turun dari tempatnya. Dgn begitu belahan dada istriku yg dibalut bra merah jadi lebih terlihat daripada sebelumnya.
Pijatanku mulai turun ke tengkuk istriku, mata istriku nampak terpejam dan bergerak seperti gontai, kudekatkan wajahku ke telinga kirinya, agar ia bisa merasakan hembusan lembut dari nafasku.
Terdengar desahan manja dari mulut istriku yg kemudian semakin merapatkan tubuhnya kepadaku. Utk seorang Nakim yg masih lugu, kurasa sikap istriku sudah cukup meyakinkan.
Kulirik Nakim yg tak henti2nya menatap istriku yg kini seperti lemah tak berdaya, senyum kecil terulas kearahku saat ia lihat istriku tak sadar waktu telapak tangan kananku mulai membelai dada montoknya. Tak segan sesekali kuremas dgn lembut dada istriku utk meyakinkan Nakim bhw obat perangsang yg ia taruh dalam teh manis tadi sudah bekerja.
Kuberi isyarat agar Nakim mendekat, ia pun menurut, kini tubuh istriku berada tepat didepannya. Remasanku di dada montok istriku pun lbh jelas terlihat. Sedangkan istriku bersikap spt orang ketiduran, sesekali saja desahannya terdengar pelan mengiringi rangsangan yg kuberikan kepadanya.
Melihat mata istriku yg terpejam, Nakim tak malu2 lagi menatap tubuh istriku.
Kusingkap lagi bagian depan baju istriku, Nakim nampak makin bernafsu.
Kuarahkan belaianku lebih kedalam, istriku menggeliat pelan, bibirnya membuka mengeluarkan desahan lembut yg semakin membangkitkan gairah.
Kuberi kode buat Nakim memberi tawaran kepada Nakim agar ikut menyentuh dada montok istriku.
Nakim mengulas senyum tipis. Dgn pelan, tangannya pun mulai terulur kearah belahan dada istriku, kuturunkan jemariku membiarkan Nakim bermain di dada istriku. Sbg gantinya, ku beri kecupan2 kecil di leher istriku.
Istriku menggeliat lagi. Segera kutangkap bibir merahnya dgn bibirku, bersamaan dgn itu Nakim pun meremas dada istriku dgn telapak tangannya.
Remasan Nakim membuat buah dada istriku tergerak naik jadi hampir keluar dari balutan bra merahnya. Melihat itu Nakim makin semangat, nafasnya memburu, Nakim pun semakin berani. Tangan kirinya mulai membelai paha istriku sementara tangan kanannya sudah mulai bermain di puting istriku yg kini mencuat keluar dari bra merahnya yg turun akibat remasan tadi.
Desah istriku makin jelas terdengar, Nakim tambah bernafsu, apalg saat melihat istriku menciumi leherku dgn mata terpejam. Kukedipkan mataku skali lagi pada Nakim. Senyum tipisnya kembali terulas, namun kini bercampur aduk dgn gejolak gairahnya yg menyala.
Kulumat lagi bibir istriku sambil perlahan mengatur posisi agar Nakim lebih leluasa menikmati dada istriku. Benar saja, tanpa ragu lagi, Nakim pun menggerakkan kepalanya kedepan dan dgn gemas menangkap puting susu istriku yg menegang dgn mulutnya.
Istriku sempat tersentak menerima rangsangan itu. Rasa nikmat menjalari tubuhnya kian dalam, tangannya pun meraih kepala Nakim yg sedang terbenam didadanya. Nakim sempat melirik kepadaku, kurespon dgn mengangkat jempolku sesaat. Tampaknya Nakim yakin dgn iming2 obat perangsang pemberianku yg telah ia tuang di teh manis yg diminum istriku. Ia pun kembali membenamkan wajahnya ke dada istriku dan membasuh kenyalnya dada montok istriku dgn lidahnya.
Tangan istriku meremas rambut Nakim, sementara itu bibirnya menciumi leherku. Tangan Nakim yg tadi membelai-belai paha istriku pun kini sudah mulai naik keatas, menuju daerah lembab di selangkangan.
“enak ga,ma?”,tanyaku mesra.
“uuh,papa jahat”,jwb istriku ditengah gairahnya. Matanya setengah terpejam dan kulihat ia sebentar melirik Nakim yg makin terlena didadanya.
Sekali lagi istriku tersentak, jari2 Nakim ternyata telah sampai di tujuannya,perlahan masuk ke balik celana dalam istriku dan mulai bermain disana.
Menyesuaikan permainan Nakim, kuarahkan istriku agar berbaring, dgn begitu tangan Nakim bisa bebas bermain di vagina istriku.
Dengan posisi terlentang begitu, berganti aku yg memberi rangsangan di dada istriku, sementara Nakim kubiarkan menjelajahi vagina istriku dgn jemarinya.
Tak henti2nya istriku mendesah sampai satu pekikan kecil pun terdengar saat celana dalamnya disingkap dan jari Nakim menyeruak masuk ke liang vagina’nya. Tanpa rasa malu lagi Nakim pun tak segan sesekali menggunakan mulutnya utk memberi rangsangan di daerah itu.
“buka ya,ma”,ujarku lembut pada istriku yg cuma dijwb dgn anggukan pelan.
Kuberi isyarat pada Nakim, Nakim pun mengerti dan perlahan membuka celana dalam istriku.
Melihat liang kenikmatan didepan matanya, Nakim seperti gelap mata, tak ayal lagi kepalanya maju utk mencicipi vagina istriku dgn mulutnya.
Hal ini tentu diluar dugaan, lidah Nakim yg liar menjilati vagina istriku dgn rakusnya. Istriku lagi2 tersentak menerima rangsangan yg dilancarkan Nakim di vaginanya.
Rasa nafsu mulai menguasaiku, kukeluarkan penisku dari celana yg cepat diraih oleh istriku diiringi desahnya yg kian rapat.
Perlahan mulai kuatur lagi posisi dudukku, mendekatkan penisku ke wajah istriku. Merasakan gelagat itu,istriku sempat membuka matanya dan menatap ku tajam, tp ku tak terlalu menghiraukan, dgn lembut kubelai rambut istriku dan menempelkan ujung penisku dibibirnya.
Lumatan Nakim yg liar membuyarkan tatapan istriku, gejolak nafsu kembali melanda, dgn menoleh ke kiri,diraihlah penisku masuk ke mulutnya.
Kepala dan pinggul istriku terjebak dalam sensasi nikmatnya memberi dan menerima. Mungkin ia pun sudah lupa rencana awal yg mana dia harus bersikap spt orang mabuk, yg kulihat kini nafsunya yg bicara.
Setelah puas menjilati selangkangan istriku, Nakim mengangkat kepalanya, cepat kuulur tanganku dan mengirim jariku utk bermain di vagina istriku. Hal itu sengaja kulakukan agar tak ada yg hilang dari sensasi yg dirasakan istriku, sementara kuberi isyarat agar Nakim berganti posisi.
Nakim pun pindah kini ke sebelah kanan tubuh istriku, kuberi isyarat lagi pada anak itu utk membuka celananya. Pertama Nakim tampak ragu, namun tatapan mataku membuatnya memilih utk menurut saja.
Nakim membuka celananya, tampak penis Nakim yg tak terlalu besar namun sudah sangat tegang.
“bentar ya,ma”,ucapku mesra sambil memundurkan pantatku agar penisku keluar dari mulut istriku. Istriku mengeluarkan desahan merajuk, ku arahkan kepalanya dgn lembut kearah kanan, Nakim menatapku seakan tak percaya. Dgn mata setengah terpejam istriku memecah kebisuan dgn meraih penis Nakim masuk ke mulutnya. Kulihat Nakim mengejang. Nafasnya makin memburu. Kini lebih mirip orang megap2. Bersahut2an dgn lenguhan dari mulut istriku yg sedang melumat penisnya.
Melihat itu kurasa sudah waktunya aku bekerja, cepat ku ambil posisi setengah duduk diantara kedua paha istriku dan menggapai dada istriku dgn telapak tanganku, perlahan tapi pasti, ujung penisku mencari sarangnya.
Pada satu titik yg hangat, penisku pun menyeruak masuk, rasa hangat meliputi penisku yg makin dalam menyusup. Kuteruskan dgn perlahan, dan kuberi tekanan saat benar2 masuk seluruhnya.
Lenguhan nikmat keluar dari mulut istriku yg tersumpal oleh penis Nakim. Dgn penuh perasaan akupun memulai tugasku. Kuayun pinggulku dgn ritme pelan sambil sesekali memberi sentakan.
Sensasi memberi dan menerima kembali istriku rasakan. Ia terus berusaha memberi kocokan pada penis Nakim dgn mulutnya, sementara itu penisku terus bermain mundur maju di vagina’nya.
Tak lama kemudian tiba2 Nakim menengadah. Terdengar lenguhan istriku seperti terkejut. Tangan Nakim menahan kepala istriku dgn kuatnya, desis dari mulut Nakim terdengar parau. Hingga beberapa detik terlihat Nakim seperti melayang.
Kuperlambat ayunan ku, kulihat ada cairan putih kental yg tercecer dari sela bibir istriku. Dan kini dgn telaten istriku pun mulai memberi sentuhan akhir pada penis Nakim yg barusan muntah dimulutnya.
Dgn wajah malu, seperti tersadar dari mimpi, Nakim melirik ke arahku dan memberi isyarat pamit ke kamar mandi. Kujawab dgn anggukan cepat, bergegas ia mengambil celananya dari lantai dan melangkah cepat kearah kamar mandi.
Aku kembali pada tugasku, cubitan kecil istriku seperti mengembalikan gairah yg tersendat barusan. Kuayunkan lagi penisku kini dgn ritme yg lebih cepat. Sampai pada akhirnya bersamaan dgn istriku mencapai klimaks’nya.
Istriku tampak kelelahan, begitu pun aku. Tapi harus kuabaikan lelahku, setelah meraih celanaku yg tercecer dilantai, bergegas aku menuju kamar mandi.
Kudapati Nakim ada disana baru selesai bersih2.
“kim,kamu langsung tidur aja,biar mas ya urus..mumpung mbak’nya belum sadar bener”,ucapku sambil berbisik. Nakim mengangguk cepat. Rasa malu, takut dan lelah memancar dari wajahnya, bergegas ia menuju kamar tidurnya dgn langkah tak bersuara.
Mendengar suara pintu kamar Nakim yg ditutup, istriku pun bangkit menuju kamar mandi. Dan kami pun mandi, membersihkan diri dari keringat dan lendir akibat permainan tadi. Karena lelah, kamipun segera masuk kamar dan tertidur.
Sudah tiga hari sejak malam penuh gairah yg kualami bersama istri dan Nakim.
Tak ada yg berubah dari sikap Nakim, malah kulihat ada malu yg amat sangat diwajahnya saat ku bertanya soal kejadian terakhir. Istriku pun kusuruh bersikap biasa saja. Karena Nakim benar2 percaya kalau waktu itu istriku dalam keadaan mabuk berat dan kemudian menyangka permainan itu adalah hanya antara aku dan istriku.
Beberapa hari kemudian Nakim pun berangkat kerumah tanteku. Tak ada yg berubah saat suatu hari aku mampir ke toko kaset tanteku. Nakim tetap santun, malah seperti malu membahas kejadian terakhir dirumahku.
Kurang lebih 6 tahun Nakim bekerja di toko kaset tanteku, hingga akhirnya Nakim pulang kampung karena bapaknya meninggal, dan tidak kembali lagi karena harus menjaga ibu dan adiknya.
Selang beberapa bulannya, Nakim pernah menelponku dari kampungnya, mengabarkan bhw ia ingin melangsungkan pernikahan, ia berharap sekali aku hadir. Namun karena jadwal kerjaku, aku tak bisa memenuhi undangannya.
Dan terakhir kali kudengar, Nakim sudah beranak dua.
Kusampaikan kabar baik itu ke istriku. Satu cubitan kecil yg khas mendarat di perutku.
“ih, kok nyubit sih”,ujarku sambil menangkap pegelangan tangan istriku.
“semua gara2 kamu tau..”,jwb istriku masih terus berusaha mencubit.
“iya, jadi si Nakim males kerja,malah kepengen kawin”,jwb istriku lagi.
Aku pun tertawa sambil mendekap tubuh istriku. Istriku pun ikut tertawa dan kembali mencubit perutku.
Dan kamipun larut dalam canda penuh kemesraan

Jogja Bergoyang


Kenalkan...namaku Putria Leksiana...aq saat ini masih kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja...sudah sejak 2007 aq di jogja. Namun, nuansa kental religi dan budaya di s
ini membuat aq menjadi semakin berat tuk meninggalkan jogja... aku anak bungsu dari 3 bersaudara. Abiku seorang petinggi PAN di daerah kelahiranku di Kalimantan. Umiku hanya seorang Ibu Rumah Tangga biasa. Kakaku yang pertama bernama Ulfah... sekarang dia sudah bersuami, tinggal di Semarang. Kakaku yang kedua bernama Safira, tinggal di Solo, masih single. Sementara aku dilahirkan di Kalimantan tgl 20 Februari 1987.

Semenjak pertama kali menginjakkan kakiku di Jogja, aku tak kenal siapapun di sini, kecuali Kakaku Safira yang menemaniku untuk mencari Kos-kosan dan kampusku. Oh ya, kosanku ada di daerah Condongcatur. Di sini aku banyak teman aktivis. Mereka adalah aktivis KAMMI, yang rata-rata adalah senior di kampusku. Aku mengenal dunia aktivis juga dari mereka. Adalah Kak Sherly yang membawaku ke dunia ini. Entah kenapa akupun jadi tertarik untuk bergabung, hingga kini, karena keaktifanku di kampus, aku menduduki ketua bidang kaderisasi...

Di KAMMI, para akhwat seringkali bertemu atau berkoordinasi dengan para ikhwan. Seringnya pertemuan itu, tak jarang membuat para akhwat mengidolakan salah seorang dari mereka. Sebutlah kak Feri, Kak Arga, dan Kak Utomo. Mereka adalah tiga orang yang menduduki puncak pimpinan KAMMI di kampusku. Begitu juga aku, entah kenapa gairah kewanitaanku begitu bergejolak saat melihat mereka, melihat ketampanan dan kewibawaan mereka, serta janggut dan tubuh mereka yang tegap tak jarang membuat...(emhh...aku malu menyebutnya) membuat celana dalamku basah... Aku begitu terangsang...entahlah, cairan itu begitu derasnya mengalir saat ketiga atau salah seorang dari mereka lewat di depanku...Akupun langsung tertunduk malu dan wajahkupun memerah...ohh...begitu menderitanya aku...

Hingga suatu saat secara reflek tanganku memainkan atau menekan-nekan bagian paling sensitif di tubuhku. Kata orang, bagian itu adalah klitoris. Ya...aku bermasturbasi. Tak jarang itu aku lakukan di depan mereka. Tentu saja mereka tak mengetahui karena aku menggunakan jubah yang lebar atau jaket KAMMI.

hmm.... saat inilah aku berta'aruf dengan masturbasi...dengan sex...ooh....

Bila teman teman disini ingin membayangkan wajahku seperti apa...Cobalah lihat acara INTERPOL di TV One. ada Host bernama Dinna Handani... mungkin bila dibandingkan, wajahku mirip sekali dengannya...

kiranya perkenalanku saat ini cukup, esok kan kuteruskan kisah sex pertama kaliku....

salam cinta dari Leksiana

Waktu itu, tepatnya Kamis pagi. saat aku telah menahan lapar dan dahaga. Semua kader berkumpul di halaman kampus untuk apel persiapan aksi menentang penurunan BBM. Aku mengenakan jubah lebar bercorak bunga mawar kombinasi merah dan hitam, jilbab Rabbani yang aku kenakan berwarna hitam yang menjulur sampai ke pinggang. Saat itu, Kak Feri memimpin briefing.... Suaranya yang lantang dan dalam, janggutnya yang tipis rapih, lagi-lagi membuat aliran darahku mengalir lebih cepat dari biasanya... Seperti biasa, berkat jubahku dengan model kancing di depan dan jaket organisasiku, aku lebih leluasa untuk..yah paling tidak meredakan denyutan jantungku yang berdetak kencang.. Sambil menatap tajam pada mata dan mulutnya, aku main-mainkan klitorisku yang memang sudah basah sedari tadi... Posisi berdiriku yang paling belakang membuat aku leluasa memilin dan memainkan jemari lentikku di bagian itu. Entah kenapa, cara ini membuat aku merasa nyaman... terutama saat-saat di mana aku merasakan seperti ingin pipis. Saat itulah secara reflek jemariku menekan semakin kuat, mataku aku pejamkan...akupun tak kuasa menggigit bibir mungil bagian bawahku..."ooh...ssshh..ahhh.." sambil kurangkul tas ransel semakin erat...Oooh...aku merasakan cairanku yang masih kental, mungkin karena kevirginanku, jemari lentik yang kumainkan terasa keset...seperti dua permukaan balon basah yang saling bergesekan..ough...tak bisa kubayangkan begitu nikmatnya momen-momen seperti itu...2 detik menjelang "pipis", aku sedikit menggelinjang dan memekik sambil sepontan kepalaku yang terbalut jilbab menengadah ke atas dengan mata terpejam..."ssssshhhhh...!!!!" Kenikmatan yang luar biasa...aku terkulai lemas...sementara jemariku masih menelusup ke sela-sela kancing depan di balik jilbab lebarku... tanganku basah kuyup karena lendir kewanitaanku....

"Ukhti Leksiana...anti ndak papa...?" sontak teguran itu membuatku terkaget dan salah tingkah, ternyata ukhti Leli mengira aku sakit karena pekikan kecil dan eranganku membuatnya heran. Waktu itu, ia nampak anggun dengan potongan khas aktivis KAMMI, jilbab merah jambu sampai ke dada, atasan putih longgar, dan rok bluzz panjangsampai ke mata kaki." Oh,Ukhti Leli...eng...nggak papa kok ukhti, aku baik-baik aja..." sambil segera ku cabut tanganku dari balik jubah merahku..."oh...ya sudah, bener kamu nggak papa?", tanyanya lagi.." bener ukhti nggak papa", tanpa sengaja kuseka dahiku dengan tangan yang basah kuyup oleh cairanku..."oh tidak!" pikirku...untungnya dia tak sadar, mungkin dia mengira bahwa cairan itu adalah keringatku...fiiuhhh...! "Eh, ukhti, tolong ambilkan selebaran di sekretariat ya...30 menit lagi kita start longmarch dari depan kampus menuju perempatan kantor pos besar...emmm...di sana udah ada Kak Feri, nanti kamu tanyakan saja sama dia...dia tahu koq tempatnya..." Seru Ukhti Leli padaku.. "Apa..???!" pikirku dalam hati...Kak Feri baru saja kubayangkan sedang menjilati klitorisku...apa yang akan terjadi bila aku bertemu dengannya di ruangan yang sepi dan sempit...Darahku mulai mengalir deras...entah kenapa daerah sekitar kelangkanganku seolah berdenyut-denyut geli ingin dimain-mainkan...ooh...

Langkahku lemas menuju sekretariat. Pikiranku melayang menerawang jauh hingga hal-hal yang tidak mungkin aku lakukan dengan Kak Feri...."kacau...!" pikirku...Tak terasa lamunanku mengantarku pada Kak Feri, di sekretariat KAMMI....saat itulah, pengalaman pertama yang tak akan mungkin aku lupakan....Perlu kalian ketahui wahai para pembaca yang budiman. di tempat yang sama, dan momen yang hampir serupa, Seniorku bernama Ukhti Salma dan Akhi Ramdan (nama aku samarkan) mengalami hal terburuk dalam hidupnya...Mereka dipergok sedang bersenggama di dalam sekretariat KAMMI yang sepi...parahnya lagi, Ukhti Salma tak menanggalkan jilbab dan jubah lebarnya, lengkap dengan ikat kepala KAMMI yang sering kami gunakan untuk aksi...hingga akhirnya mereka dikeluarkan dari kepengurusan...

Saat itu hampir jam 9 menjelang pemberangkatan longmarch anti kenaikan BBM. taganku dengan mangset berwarna putih membuka pintu sekretariat..Krekeeeeeeeek...!

"Assalamu'alaikum..."

"Wa'alaikum salam...eh ukhti Leksiana...mari masuk, disuruh Ukhti Leli untuk ngambil selebaran ya...?" Sahut Kak Feri...

"emmm...i..iya Kak..." aku tersipu, wajahku memerah, dan tak ada kata yang bisa kuucapkan...

"nih, ukhti...selebarannya" Ia mengambil satu rim selebaran.. Akupun berusaha mendekati dan meraihnya, dan "AAAAAHhh...!!!" sontak aku kaget karena tikus yang berlari melintas di bawah jubah merahku, spontan aku singkapkan hingga ke lutut hampir ke atas lutut! untung aku mengenakan stoking coklat muda, akupun sempat melihat mata Kak Feri yang membelalak melihat betisku yang terbungkus stoking...Suasana di sekretariat menjadi kacau, selebaran yang akan kuraih tercecer di lantai...

"Aduuh...m...maaf Kak, aku...", belum selesai kalimatku, Kak Feri menimpali.."Nggak papa ukht...ya sudah Ana bantuin ya...?" Suasana menjadi hening, kami sama-sama merangkak di lantai memunguti selebaran yang tercecer...hingga tak sengaja tanganku dan tangannya saling berpegangan...Namun anehnya, naluriku tak sedikitpun menarik genggaman tangan Kak Feri, begitu juga dengan kak Feri yang semakin erat menggenggam tanganku...perlahan ia menatapku yang kerepotan memegang jilbab lebarku yang menjuntai ke lantai..."Uhti....", bibirku diam seribu bahasa, area kemaluan di balik jubah merahku yang ikut berdenyut, degup jantungku semakin berdebar kencang, cairan vaginaku yang belum mengering kini kembali dialiri lendir kewanitaanku...

Perlahan tapi pasti, dengan posisi masih menungging di lantai, wajahku dan wajah kak Feri saling berdekatan...tangan kananku yang sempat memegang beberapa selebaran, kini beralih memegang jilbab rabbani warna hitam yang menjuntai ke bawah, aku dekapkan ke dada. Tak kusangka, bibir kak Feri mulai mencumbu bibir mungilku...kecupan, pagutan, dan sedikit sedotan bibir kak Feri membuat nafsuku membludak...pengalaman pertama mencium bibir laki-laki bahkan yang bukan muhrim, adalah satu hal yang paling dibenci kami sebagai aktivis kerohanian di kampus..."emmmfff...enghh...sylurup..." suara-suara aneh bagiku seorang wanita yang masih mengenakan jilbab rabbaninya mulai membangkitkan nafsuku, Seorang Leksiana, tepatnya Putria Leksiana. Dengan posisi masih menungging, ciuman penuh nafsu itu terus kami lakukan.. Seiring gairah kami yang semakin membara, aku rasakan denyutan di area kemaluanku di balik jubah ini telah membanjiri celana dalamku berwarna pink lengkap dengan renda-renda di sisinya. Kamipun perlahan duduk saling berhadapan tanpa melepas bibir kami berdua, tangan Kak Feri mulai berani memegang pundakku.."engggh...!" aku hanya pasrah menerima perlakuan kak Feri, begitu nikmat kurasa..."oouh..emmh...!" kini perlahan tangannya mulai menyusup ke dalam balik jilbab rabbaniku, dia meremas payudaraku! payudara seorang gadis berjilbab, aktivis KAMMI yang loyal...Sylrup..! aku lepaskan bibirku darinya, mataku terpejam penuh nafsu, secara spontan kepala kutengadahkan ke atas...Nafas Kak Feripun semakin terengah penuh nafsu...Kini giliran tangan kanannya meremas payudara sebelah kiri ku, hingga kini tampak di balik jilbab rabbaniku tersembul-sembul gerakan tangan Kak Feri yang begitu menggairahkan.." Ouhhh...Kak Ferri....Eranganku semakin keras saat ada benda hangat menyentuh puting susuku...Aaaarghhh...!!! Akhii...!! Kak Feri... OOOh...Ia terus memilin-milin puting susuku...Tak kusangka kancing jubah merahku sudah terbuka di bagian dada, dan kedua tangan Kak Feri menyelusup masuk ke dalam BHku...Rangsangan yang belum aku rasakan sebelumnya ini telah membuatku gelap mata...nafsuku tak tertahan lagi, aku langsung mengemut jari telunjukku (bagai lolipop yang diemut anak kecil) sambil memejamkan mata. Aku yang masih mengenakan jilbab robbaniku telah membuat Kak Feri gelap mata pula...Segera Kak Feri membenamkan mulutnya ke dalam payudaraku...Ia menyelinap ke balik jilbab Rabbaniku...karena bentuk jilbabku yang lebar, membuat kepala Kak Feri yang sedang menyedot dan menggigit-gigit payudaraku bersembunyi di balik jilbabku...aku bergelinjang kenikmatan, kedua tangankupun spontan menekan gundukan dibalik jilbabku yang itu adalah kepala Kak Feri yang tersembunyi di balik jilbab.. Oouhh..ouuh...sssh...emmh...Aku bergelinjang- menikmati gigitan-gigitan kak Feri di putingku yang masih mungil...Spontan posisiku aku rubah menjadi duduk di atas pangkuan Kak Feri yang kini duduk bersila, layaknya adegan Kama Sutra yang pernah aku lihat di internet, kedua tangan kak Feri memegang erat punggungku, sementara kedua tanganku memeluk erat kepala Kak feri memaksa agar semua payudaraku masuk dalam mulutnya...Namun, karena aku mengenakan jubah lebar, kepala Kak Feri yang tersembunyi dibalik jilbabku, sebagian kakinya yang bersila juga terhalang oleh jubah lebarku membuat aku seolah memeluk sebuah guling besar dengan eratnya...Basahnya kemaluanku yang langsung bergesekan dengan titit Kak feri di balik celana bahannya, membuat celananyapun terlumuri oleh cairan vagina Leksiana...Aku semakin gila, sambil memejamkan mata, akupun mencari sensasi sex dengan menggesek-gesekkan kemaluanku di atas benda runcing yang tersembunyi di balik celananya...ouuh...nikmat sekali...

10 menit berlalu...kepuasan Kak Feri menelan buah dadaku belum usai...ia menatap sebentar ke arahku...aku yang masih terbalut jilbab yang sudah kusut ini, hanya menatap pasrah pada Kak Feri, dengan posisiku yang masih duduk di pangkuannya, tangan kanannya lalu membuka resleting celananya, dan menyingkapkan gundujan panjang di balik celana dalamnya yang seolah ingin melesat keluar...Ceng! jantungku berdegup kencang saat kak Feri berhasil mengeluarkan tititnya yang besar dan panjang dari himpitan celana dalamnya..."Ouh...!" aku memekik keras dan tak lama aku terkulai melihat ukuran titit Kak Feri yang begitu ngaceng dan keras...seolah terbiasa, tangan kananku mulai mengocok-ngocok batang besar itu...karena sudah licin oleh cairan vaginaku dan cairan pelumas milik Kak Feri akupun tak kesulitan mengocok batang licin itu...Kak Feri hanya mengerang-dan mengerag.."ooh...sssh...Ukhti..." dengan posisiku yang masih berpangku, tak jarang jubah lebarku menghalangi pemandangan indah ini, tangan kiriku lalu menyingkapnya hingga perut sementara tangan kananku mengocok batang Kak feri yang sudah panas dan berlendir...sambil sesekali kugesek-gesekkan ke celana dalamku yang sudah basah kuyup...Oughh...Kak Feri...nikmatnya...

Karena nafsu yang bergejolak di tubuhku, seorang wanita lengkap dengan jilbab rabbani dan jubah panjangnya, dan juga Kak Feri yang sedari tadi sudah tak karuan, lalu Kak feri mulai menyingkapkan celana dalamku tepat di depan lubang kemaluanku yang merah merekah...ooohh...aku sudah tak sabar merasakan gesekan batang besar itu di dalam vaginaku yang selama ini kuimpikan...

Posisiku masih berpangku padanya, dan Kak Feri dengan posisi bersila, ia mengarahkan batangnya pada lubang vaginaku...akupun membantunya dengan mentyingkapkan jilbab lebarku dan jubah yang menghalangi masuknya batang Kak Feri...Perlahan ia gesek2an batangnya pada permukaan vaginaku...ooughh...kemaluanku selama ini yang hanya aku mainkan dengan jari jemari, kini benar-benar batang ****** mulai menyobek selaput kehormatanku...ooohh... Perlahan Kak Feri memasukkan ujung batangnya ke dalam lubang memekku yang masih sempit dan suci...dengan seksama dan mendebarkan kuperhatikan semuanya detik-demi detik...awalnya sakit yang tak terbayangkan terasa olehku saat batang Kak Feri berusaha menyeruak lubang kehormatanku..."ssshh...AAAaaww...Kak Feri....!!" Aku pun membantunya untuk memasukkan batang itu dengan menggoyang-goyangkan pinggul ke atas dan ke bawah...hingga akhirnya...Blesss...!!! cairan berwarna merah segar membasahi kelangkangan kami, denyutan di memekku semakin kencang saja menjepit erat batang Kak Feri...aku hanya bisa pasrah...berahrap ini semua berakhir dengan indah... Karena ini pengalaman pertamaku, aku tak bisa lagi membendung kenikmatan yang di awal kubilang "pipis", kini seluruh otot di selangkanganku mengejang berusaha menyemburkan cairan itu sekuat2nya dan crrt..crrt...sambil memeluk erat Kak Feri hingga tersembunyi di balik jilbab lebarku "Ah!Ah..AAAaaaaaaah...!" "Kak...aku....lemes..." melihat kondisiku yang sudah melemas, batang kak Feri yang sedari tadi diam menikmati pijitan vagina dan semburan hangat memek seorang wanita berjilbab, kini mulai menggerakkan teratur ke atas dan ke bawah...namun, kaerna ini pengalaman pertama Kak Feri, ia pun tak kuasa membendung kenikmatan ini terlalu lama, hingga buru-buru ia cabut batang penisnya dan sambil mengocok2 penisnya sendiri...crooot..crooot..crooot..!!! aaaaahahhhh....semburan hangat sperma Kak Feri membuat jubah dan jilbabku belepotan cairan sperma, darah, kehormatanku, dan...semuanya...Aku terkulai lemas, perlahan aku pun tergeletak lemas dengan jilbab yang sudah kusut, dan jubah yang tersingkap hingga pinggul...Kak Feripun merasakan hal yang sama...ia tergeletak di atas tumpukan kertas selebaran yang akan dibagikan siang ini...

Inilah pengalaman pertamaku...awal kisahku dengan sex...saat itu aku tak ingat lagi apa yang terjadi...hanya saja Kak Leli menemukanku dalam keadaan tergeletak di lantai tanpa Kak feri....3 hari pasca "Percintaan" dengan kak Feri telah membuatku sakit, badanku panas, pikiranku terus saja tak lepas dari kejadian itu... Kenikmatan yang kurasakan tak mudah aku lupakan. Ukhti Leli yang selama ini membantuku membuatkan bubur dan membelikan obat di kosku. Selangkanganku terasa perih, tapi selalu berdenyut2 dan seolah ingin melakukan untuk kedua kalinya. "tapi tak mungkin..." pikirku. Saat pikiran itu datang, tanganku seolah refleks untuk mengarah pada selangkanganku... tapi kucoba untuk memainkan seperti biasa, rasanya ngilu bercampur geli. Akhirnya aku gunakan baby oil milik Ukhti leli yang biasa ia gunakan. aku nggak ngerti baby oil itu digunakan untuk apa oleh Ukhti leli. Aku tumpahkan sedikit ke telapak tangan, lalu aku masukkan tanganku ke dalam selimut yg kupakai. Sambil setengah duduk (bersandar pada bantal di tembok), aku mengangkangkan kakiku seperti posisi seorang wanita yang mau melahirkan... rasa ngilu yang tadi kurasakan kini hilang..."emmmh..." sambil memejamkan mata membayangkan batang kemaluan Kak Feri yang besar...ooough...geli, nikmat, entah kata-kata apalagi untuk menggambarkan betapa nikmatnya posisi itu... klitorisku terus ku pilin2 dan sesekali menekan..di dalam kamar aku hanya mengerang dan menggeliat-geliat, "ouh...ssshh..aw...ennnghhh..." aku semakin gila, semakin kurasa ingin pipis, aku mempercepat gerakanku...dan "oh!oh!..aah...!ssshhh...!"spontan aku ambil guling sementara tangan kananku terus mengocok klitorisku...aku peluk erat-erat gulingku dan.."ah!ah!..aaaahhh...!..." 5 menit ternyata cukup membuatku orgasme...aku terkulai lemas...karena kondisiku yang tidak fit, aku pun tertidur dengan posisi kaki masih mengangkang sementara guling berada di pelukanku...selimut yg kupakai agak tersingkap di bagian lutut, sehingga bila dilihat dari arah kaki, tentu saja selangkanganku akan terlihat jelas dengan rok panjang yang kukenakan... "hhmmmhhh...." aku menarik nafas panjang dan tertidur pulas....

2 jam berlalu aku tertidur pulas, jam menunjukkan pkl.11 siang, aku terbangun dengan kondisi acak-acakan, selimut sudah tak menutup lagi badanku, rok panjang yang kukenakanpun tersingkap ke bagian pinggul, waktu itu aku tak memakai celana dalam.. "Ya ampun..!" spontan aku melihat ke jendela yang terbuka, dan "mudah-mudahan nggak ada yang liat..." pikirku. Aku bergegas mandi, setelah selesai menyegarkan badan biasanya aku langsung mengenakan jilbab rabbaniku berwarna putih berpadu pink, jubah berkancing depan dengan motif bunga2 kecil, dan celana dalam berenda warna pink kesayanganku... kali ini aku singkapkan jubahku dan celana dalamku untuk melihat area kesayanganku, kehormatanku, my pinky area... aku perhatikan, "lubangnya masih sempit..." pikirku. berharap agar kejadian itu tak terulang kembali.

Akupun bergegas meninggalkan kos, menuju kampus. Tepat jam 1 siang, aku ada kuliah ekonomi manajemen waktu itu. Singkat cerita, setelah perkuliahan usai sekitar jam 15.30 ada dering sms masuk ke HPku..."Oh tidak!kak Feri..." Pikiranku langsung melayang tak jelas, teringat kembali memori itu. ohh.. ku buka sms darinya..isinya kurang lebih begini, "Ass,Ukhti Af1 ganggu, aq tw km gamau bc sms driq, tp tlg sekali ini saja di depan toilet lantai 3 Fakultas Pertanian..jazakillah..."

Jantungku berdegup kencang setelah kubaca sms itu, selain isinya yg mengajak bertemu, juga tempatnya...mengapa kak Feri mengajak bertemu di tempat yang sepi... oh... pikiranku berkata tidak, tapi hatiku seolah menuntunku untuk pergi kesana... "Apakah akan terulang lagi..?" pikirku.

Dua lantai aku lewati, sampailah aku di tempat perjanjian. Selain waktu sudah sore, memang tempat ini jarang dikunjungi mahasiswa karena sedikit sekali mahasiswanya, di samping memang kondisinya yang tidak terawat. Di kejauhan terdengar sorak sorai orang sedang bermain basket, namun, rindangnya pohon Mahoni umur ratusan tahun menutupi tempat itu..

Awalnya aku takut, karena tak ada siapapun disini, "Apa kak Feri terlanjur pergi dari sini...?" Akupun memberanikan diri tuk memanggilnya,

"Assalamu'alaikum...Kaaak? kak Feri...Kakak di mana?" sambil celingukan aku mencarinya... tiba-tiba "Aaaahhh! mmmffff..!!!" Aku sontak kaget! badanku tak bisa bergerak, sebuah tangan menutup mulutku, sementara tangan yang lain memelukku dari belakang! Pikiranku mulai kalut, air mata mulai mencair dari mataku...sementara aku berusaha meronta-ronta...Jilbab dan jubahku kusut tak karuan. "sssh...sssh...Ukhti, ini aku...Kak Feri..." bisik orang itu. lalu perlahan aku menoreh ke belakang, pelukan dan cengkeraman tangannyapun mulai dilepaskan...setelah kuyakin perkataannya benar, aku hanya menarik nafas panjang..dengan ngos-ngosan aku berkata padanya "hhmmhh...Kak Feri...maksudnya apa...???" "Iya Ukhti, sabar...afwan kalo caraku kasar...aku hanya ingin bicara..." Sebelum mulutku bicara, kak Feri sudah memotongnya, "pertama...aku minta maaf atas kejadian itu, kedua aku ingin bertanggungjawab, ketiga aku tak bisa meninggalkan kuliahku...ke empat, aku menyukaimu ukhti..." Mendengar perkataan itu, aku hanya diam seribu bahasa, aku tertunduk layu... tak lama tangannya mengangkat dahuku, akupun sedikit kaget karena wajahnya sudah sangat dekat dengan wajahku, dan...emmmfff...mmmh...clep..clpot... bibirnya segera membungkam bibir mungilku...Aneh, aku tak menolaknya, my pinky area di balik jubahku mulai berdenyut-denyut meminta untuk diperlakukan adil...Aku hanya memejamkan mata menikmati ciuman dan cumbuan Kak Feri..."emmh..mff.." Begitu terangsangnya aku sehingga aku memeluk pundaknya dan ia menarik pinggulku ke arahnya...oough...terasa sekali gundukan batang Kak feri di balik celana bahannya...silatan lidah kak Feri membuatku melayang, karena belum pernah aku diperlakukan seperti itu, apalagi bagiku, seorang koordinator pengkaderan KAMMI komsat kampus yang masih lengkap mengenakan jilbab robbaniku dan jubah panjangku...5 menit berlalu, ciumanpun semakin panas, tanganku beralih ke kepalanya, berusaha untuk menekan lebih dalam ke dalam mulutku...sementara kedua tangan Kak feri mulai menarik ke atas jubah panjangku. Seperti salah satu adegan di film Ghost, saat kedua insan sedang menikmati sex...

Tak terpikirkan olehku, aku bercinta untuk kedua kalinya dengan tetap mengenakan jilbab robbani dan jubahku...saat itu, posisi kami masih berpelukan, kak Feri mendorongku ke arah tembok, hingga aku tersandar pada tembok yang lembab. Lumut2 hijau mulai menempel dan mengotori jilbab putih ku...namun, semua itu hilang, terkalahkan oleh sensasi ciuman dan silatan lidah Kak Feri yang seolah ingin menyedot lidahku ke dalam mulutnya..."oough...emmmmh...ssshhh...!" perlahan tapi pasti, pinggul, paha, dan betisku yang terbalut stoking berwarna krem terpampang sudah..., tak mau ketinggalan, tangan kananku secara refleks menurunkan resleting celana Kak feri dan berusaha mengeluarkan batang kemaluan Kak feri yang sering aku bayangkan saat bermasturbasi...oogh..."Besar sekali Kak..."bisikku padanya, awalnya aku kesulitan untuk mengeluarkannya, namun, dengan bantuan Kak Feri akhirnya aku bisa mengeluarkan ayam jagoku dari sangkarnya... kini mengacung sebuah batang besar di hadapanku... Kini giliran kak Feri yang menyelinap masuk ke dalam celana dalam pink ku yang sudah basah sejak aku menaiki tangga pertama... "Oough...ahhh..." kak Feri seperti sudah lihai memainkan klitorisku...dipilin2nya benjolan kenikmatan itu...sesekali ia tekan-tekan...oouhh...sensasinya begitu membuatku melayang...spontan aku menengadahkan kepalaku ke atas sambil memejamkan mata...posisi itu tak disia-siakan Kak Feri, tangan kanannya menyingkap jilbab robbaniku dan ia mulai mengecup dan menyedot leherku...aawhhh..betapa geli bercampur nikmat yang kurasakan...aku hanya tertawa geli nan centil sambil memukul2 ke pundak Kak Feri...lebarnya jilbab Robbaniku membuat kepala kak Feri tersembunyi di balik Jilbabku...aku hanya bisa menikmati permainan jemari kak Feri di Klitorisku, dan silatan lidahnya di leherku, apalagi sesekali dia menggigit dan menyedot lehet dan di bagian belakang telingaku...seolah kak Feri ingin menyedot semua keringat yang keluar dari leherku..."ooh...kak Feri...iiih...kak Feri...kak...oough.."

Kemaluanku mulai banjir dan lengket, kak Feri semakin berani memasukkan jarinya ke dalam lubang kemaluanku, tempat biasa aku pipis...oouh...dia menggelitik2an jarinya di dinding-dinding vaginaku...oouh...emmh...aku hanya bisa merasakan nikmat yang tak terhingga dan aku menjepit erat tangan yang masuk ke selangkanganku...oouhh...dan "kak...aku mau...pi...piiiisss.." dan crrr!crrret..! "ah!ah!sssh! aaahhhmmm..." aku peluk erat kak Feri... "kamu capek ukhti..?" tanyanya, aku hanya menggeleng2kan kepala walau keringatku sudah membasahi jilbab robbani dan jubahku... lalu kak feri mengeluarkan jemarinya dan menggendongku, namun, tangannya memangku pada pangkal kedua lututku sehingga posisiku mengangkang namun kakiku tak mendarat di lantai. Tentu saja, posisi itu membuat lubang memekku ternganga jelas. Akupun bingung.."mau kau apakapakan aku akhi...?" pikirku... Entahlah, tanganku mulai spontan menyingkapkan celana dalamku tepat di bagian depan lubang pipisku, dan kak Feri mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya sambil mengarahkan batangnya ke memekku... akupun membantunya dengan menyingkapkan jubahku yang lebar yang menghalangi jalan masuknya ayam jagoku ke dalam lubang pipisku...lubang pipisku semakin senut-senut, karena baru satu kali dimasuki batang Kak Feri, maka otomatis lubangnyapun masih mungil.. area kemaluankupun berubah menjadi merah muda kegelapan. Seolah semua darah bekumpul di sana. Tak lama kemudian, batang kemaluan Kak Feri berhasil masuk..blesss...kamipun berdua memekik "Aaargghh..." lalu dengan nafas terengah-engah kak Feri mengayun-ayunkan tubuhku ke arah atas, menyesuaikan masuk keluarnya batang kemaluannya yang kini sudah bersembunyi di balik jubah memekku... Oooh...emmmh...aaaw...sssshh...Kak Feri....gesekan-gesekan yang begitu terasa, seperti dua permukaan balon basah yang saling bergesekan, Sejak awal, aku terus digendong Kak Feri, aku hanya pasrah sambil memegang jubah panjangku agar tak menghalangi kemaluan kak Feri... jilbabku sudah kotor dengan lumut, jubahkupun sudah kusut tak karuan aku tak peduli, bunyi cepakan dari kemaluanku yang semakin membuatku terangsang hebat..."cepak-cepak-cepak...plok-plok-plok...!" Semakin lama semakin nikmat, kak Feri semakin mempercepat goyangannya, "hah...hahhh..emmmh..." Kak Feri mulai meracau...dan "kak...aku pipislagi......!" sambil memeluk erat ke pundak kak feri akupun orgasme..."crrrt..crrrt..crrt.." aku lemas, tinggal kak feri yang batangnya semakin panas terasa olehku... "Ayo kak...ayo keluarin akhi...." "kak Feri semakin meracau "hahhh..emmmh...Ukhti...aaaaaarrgggghhhh...!!! !1" crooot...crooot..croooot....tiga kali semburan hangat yang kurasakan di dalam memekku...oooh, kak feripun menghentikan goyangannya hingga kakiku kini menginjakkan di lantai, perlahan jubahku menjuntai ke bawah sampai mata kakiku...sementara ****** kak Feri berangsur-sngsur lemas keluar dari lubang pipisku...

"Kak feri...janji akan bertanggung jawab setelah kuliah...?" sambil kupeluk tubuhnya..

"Aku janji ukhti..." jawabnya terengah-engah...

Waktu menunjukkan jam 4.30 sore, saat langit mulai menghitam. toilet dan bekas jilbabku di tembok berlumut itu menjadi saksi bisu percintaanku dengan kak Feri. namun hingga kini, kak feri tak jua menyelesaikan kuliahnya... Sejak percintaan itu, aku mulai membatasi komunikasi dan pertemuan dengannya. Khawatir Ukhti Leli tau, aku hanya bermasturbasi di kamar kos jika kangen masa-masa itu... hingga sekarang, aku menemukan forum ini, berharap, hayalanku jadi semakin terasa riil saat aku membaca kisah yang lain, atau bahkan video2 yang tersedia di sini...

hmmmh....sampai kapan aku begini...

Istri Paranormal


Sore itu Hendarto harus berangkat ke Malaysia untuk mengurusi jaringan bisnis hotelnya. Irma berada di rumah bersama Warti (28) pembantunya, sedangkan anak-anaknya sudah dua hari ini menginap di rumah opa-omanya karena liburan sekolah. Sudah sebulan ini sejak ritual nikmat dari mbah Bromo, Irma selalu rindu dan ingin mendapatkannya lagi. Selama ini Irma mencari cara untuk bisa mengundang mbah Bromo, tapi sulit karena biasanya yang berurusan dengan hal-hal klenik adalah Hendarto suaminya.

Saat malam menjelang, pikiran Irma semakin merindukan kehadiran mbah Bromo. Setelah berusaha berpikir, Irma akhirnya menemukan cara.

“Halo.. dengan mbah Bromo?,” kata Irma menelpon mbah Bromo.

“Iya benar. Maaf dengan siapa ya?, apa ada yang bisa dibantu?,” jawab mbah Bromo di seberang sana.

“Mbah.. ini Irma istrinya pak Hendarto. Saya mau minta tolong mbah, kamar pembantu kami kan belum pernah dibersihkan sama sekali.. apa bisa dibantu, sebab saya takut ada yang usil mengguna-gunai keluarga kami lewat kamar itu,” kata Irma.

“Oh.. bisa bu Irma, kebetulan mbah juga sedang tidak ada klien. Mbah akan ke sana sekarang,” jawab mbah Bromo.

Irma senang bukan main. Ia kemudian mandi sebersih mungkin dan mengenakan gaun paling seksi yang dia punya untuk mengundang perhatian mbah Bromo nanti.

“Wah memang benar kamar ini kurang aman. Oh ya, mana pembantu ibu yang biasa menempati kamar ini?,” tanya mbah Bromo. Malam itu mbah bromo mengenakan celana kolor hitam dan kaos ketat warna hitam. Tubuh atletisnya tercetak jelas membuat Irma terpesona. Irma segera memanggil Warti yang sedang masak di dapur. Mbah Bromo kemudian menjelaskan cara ritualnya. Sama seperti pembersihan rumah, ritual harus dilakukan dengan Warti yang selama ini menempati kamar tersebut.

“Hmmm.. apa nggak bisa saya gantikan mbah? Warti kan masih sibuk masak..,” Irma seperti keberatan jika ritual di kamar itu dilakukan mbah Bromo bersama Warti. Entah mengapa ia malah jadi cemburu. Mbah Bromo menjelaskan bahwa ritual tidak boleh digantikan, kecuali kalau Warti punya suami yang biasa menempati kamar itu bersama. Warti adalah janda beranak satu, dicerai suaminya yang kawin lagi, sebelum menjadi pembantu di rumah Hendarto. Tentu saja tak punya suami. Irma masih keberatan, tetapi tak punya alasan lagi untuk bisa menggantikan Warti. Ia pun menyilahkan mbah Bromo memulai ritualnya.

“Oke.. kalau gitu biar saya yang masak. Warti kamu temani mbah Bromo membersihkan kamarmu ya,” Irma meninggalkan mereka berdua di kamar pembantu. Tapi Irma tidak ke dapur untuk masak, melainkan masuk ke kamar tidur khusus tamu keluarga. Kamar itu dindingnya saling membelakangi bertemu dengan dinding kamar pembantu. Irma meraih pigura lukisan di dinding. Ternyata dibalik lukisan itu ada semacam jendela rahasia yang bisa melihat kamar pembantu, sedangkan tepat di posisi yang sama tergantung cermin satu arah di kamar pembantu, sehingga siapapun tak menyadari sedang diintip bila sedang berada di kamar pembantu. Jendela khusus itu sengaja dibikin Hendarto untuk menyelidiki tingkah laku pembantu mereka, terutama bila ada pembantu baru.

Irma melihat mbah Bromo sedang menjelaskan sesuatu pada Warti, sambil menyiapkan baskom air kembang tujuh rupa. Tapi Irma tak bisa mendengar pembicaraan itu, karena dinding yang tebal. Warti mengenakan daster berbaring diranjang dengan mata terpejam, dan mbah Bromo mulai memercikkan air kembang ke sudut ruangan.

“Warti apa mau mbah rowah sekalian biar cepat dapet suami lagi?,” tanya mbah Bromo sambil memercikan air ke kamar. Mbah Bromo tahu kalau warti ini seorang janda.

“Hmm.. mau sekali mbah. Warti udah nggak tahan juga nih pingin cepet kawin lagi. Soalnya enak sih,” kata Warti genit. Menjanda selama empat tahun sudah membuat gairah Warti tak terkendali. Apalagi berada sekamar dengan lelaki bertubuh atletis seperti mbah Bromo.

“Kalau mbah kasih rowah yang enak juga gimana? Mau nggak? Tapi jangan sampai majikanmu tahu ya.. nanti mbah dipecat, nggak dipake lagi sebagai paranormalnya,” mbah Bromo merasa yakin bisa menikmati tubuh montok Warti.

“Ah.. mbah ini, Warti jadi malu. Tapi kalo rowahnya memang nikmat dan Warti cepat punya suami lagi, ya Warti sih nggak nolak. Mau mbah.., Warti nggak akan ngomong ke nyonya dan tuan kok,” kata Warti. Dari kamar sebelah, Irma menyaksikan mbah Bromo duduk di tepi ranjang Warti sementara Warti tetap berbaring. Tubuh warti tak setinggi Irma, badannya pun sedikit lebih gemuk. Tapi proporsi tubuhnya nampak montok menggairahkan untuk ukuran pembantu wajah Warti pun tak bisa dibilang jelek, kulitnya pun kuning langsat meski tak semulus Irma.

Irma terperanjat melihat tangan mbah Bromo langsung menelusup darter Warti di bagian bawah, lalu kepalanya merunduk dan Warti menyambut. Mereka saling berpagutan bibir, sementara tangan mbah Bromo menjelajah meremasi payudara Warti.

Ritual macam apa ini? Pikir Irma. Tapi Irma tak bergeming dan tetap menyaksikan adegan dua insan di kamar pembantu itu.

“Ahh mbahhh.. geli sekalihh..,” Warti mendesis. Kini dua payudaranya sudah lepas keluar dari BH dan kancing daster. Mbah Bromo meremas dan mengisapi putting susunya.

“Hmmmpphh.. gimana Warti? Nikmat kan rowahnya?.. mbah terusin ya biar tambah enak,” kata mbah Bromo sambil tangannya melucuti CD Warti. Warti pasrah, vagina laparnya sudah basah sejak tadi, ingin dipenuhi dengan sesuatu yang tegang.

Irma melihat mbah Bromo berdiri dan menanggalkan kaos ketat dan celananya, ia pun bugil. Astaga, penis mbah Bromo berdiri tegang mengacung keatas. Ukurannya dua kali lipat dari yang sempat dilihat Irma, karena saat ini sudah tegang. Penis mbak Bromo hitam legam dan sangat panjang, bisa tiga kali lipat dari milik Hendarto.

Tiba-tiba Warti bangkit dari ranjang, masih menggunakan daster tapi susunya sudah keluar kemana-mana, dan CD sudah luruh. Tangan Warti seolah menarik mbah Bromo untuk berbaring di ranjang, mbah Bromo menurut. Warti kemudian ikut naik ke ranjang mengatur posisi 69 dengan mbah Bromo. Mbah Bromo di bawah menghadap keatas sedangkan Warti dari atas dengan tubuh bagian bawahnya mengarah ke wajah Mbah Bromo. Ia terlihat menungging meraih penis besar mbah Bromo dan langsung menghisapnya. Mbah Bromo membelai bongkahan patat Warti dan menyisihkan ujung daster yang dipakainya.

Sialan, pikir Irma. Rupanya Warti mempraktekkan posisi 69 yang seringkali ditontonnya bersama setiap kali Hendarto tak di rumah.

“Uihh.. gede banget ******nya mbah.. tua-tua keladi nih. Sampai susah Warti genggam.. hmmpffhh.. ,” Warti terus berusaha memasukkan utuh penis mbah Bromo ke mulutnya, tetapi mulutnya kepenuhan dibuatnya. Ia benar-benar janda binal yang sedang menemukan pemuasnya.

“Waduh Warti.. pepekmu juga bagus sekali hmmm.. pasti sempit rasanya,” mbah Bromo mulai membelai vagina Warti yang mulai basah, kemudian mengangkat wajahnya agar bisa menjilati vagina itu dari bawah. Sasaran utama adalah klitoris Warti yang mulai mengeras.

“Uihhhkkkss… mbah… ahhhkkss,” Warti melepas hisapannya di penis mbah Bromo. Kepalanya menengadah menahan kenikmatan jilatan mbah Bromo di klitorisnya. Irma tertegun menyaksikan adegan ranjang mbah Bromo dan Warti dari kamar sebelah. Libidonya ikut terpacu dan ingin sekali menggantikan posisi Warti. Tiba-tiba pesawat telepon di ruang keluarga berdering. Irma barlai kecil untuk mengangkatnya karena Warti pembantunya tentu tak bisa menerima telepon lantaran sedang menjaani ritual nikmat bersama mbah Bromo.

Hendarto suami Irma menelepon memberi kabar kalau ia akan berada di Malaysia selama tiga hari. Keduanya pun terlibat obrolan tentang apa saja yang diinginkan Irma sebagai oleh-oleh dari Malaysia nanti.

Setelah pembicaraan telepon dengan suaminya selesai, Irma kembali ke kamar tidur khusus tamu untuk menyaksikan adegan layak sensor di kamar pembantunya.

Jantung Irma berdegup kencang saat kembali melihat ke kamar pembantu. Kini Warti sudah bugil berada di bawah dengan posisi kaki mengangkang, sedangkan mbah Bromo di atas mulai menggejot tubuh Warti. Irma melihat jelas bagaimana penis besar mbah Bromo menghujam-hujam di vagina Warti, dan bagaimana wajah Warti menggambarkan kenikmatan yang diterimanya dari mbah Bromo.

“Ouhh.. ahh… mbah… entotin terus mbah… akhhss, ******hhh mbahhh.. ahhhkk..,” Warti menggelinjang setiap kali mbah Bromo menggerakkan pinggulnya.

“Enak ya ndhuk?? Pepekmu juga wenakk.. rapet banget..,” mbah Bromo terus menggenjot Warti. Pinggul Warti mengikuti gerakan mbah Bromo, desisan birahi keduanya semakin keras meski pun di ruang sebelah Irma tak mendengarnya. Mbah Bromo bangkit dan menarik Warti turun dari ranjang, ia mengarahkan Warti nungging bertumpu pada sisi ranjang, lalu dari belakang mbah Bromo menyetubuhi Warti dengan gerakan yang brutal. Warti didera kenikmatan yang luar biasa, sodokan mbah Bromo yang begitu gencar membuatnya seolah melayang. Ia mulai menceracau tak karuan. Doggie style, sialan, pikir Irma. Selama ini ia hanya bisa membayangkan disetubuhi dari belakang, sementara pembantunya sudah merasakan kenikmatan itu.

“Ahh mbah…,” Irma mendesis, tanpa sadar sedari tadi tangannya mulai mengusap-ngusap vaginannya sendiri yang sudah penuh cairan birahi, sambil membayangkan sedang disetubuhi oleh mbah Bromo.

Di kamar pembantu, Warti merasakan bendungan kenikmatannya sudah hampir jebol. Goyangan mbah Bromo makin cepat dan makin mantap. Penisnya yang besar menghajar vagina Warti tanpa ampun.

“Akhh.. mbah… iyahh.. akhh… Warti mbah… ihhh.. ouhhh… nghhh,” Warti mencapai klimaksnya, tapi mbah Bromo terus memacu penisnya. Beberapa detik kemudian mbah Bromo secepat mungkin mencabut penis itu dari vagina Warti.

“Ouhhh..mbah…akhhhhzzz…,” Warti hampir menjarit menerima klimaksnya yang maksimal.

Saat penis mbah Bromo dicabut, Irma melihat jelas vagina Warti menyemburkan cairan kenikmatan berkali-kali, sampai karpet di kamar pembantu pada basah. Warti lunglai dan tersungkur di ranjang. Mbah Bromo mengamit tubuh Warti agar terlentang dan memandu kaki Warti kembali mengangkang. Kemudian mbah Bromo memasukan lagi penisnya yang masih sangat tegang ke vagina Warti, dan kembali menggenjotnya.

Irma melihat kenikmatan luar biasa terpancar dari wajah Warti, dan sekali-lagi vaginanya menyembur cairan kenikmatan saat mbah Bromo mencabut penisnya.

Mbah Bromo belum mencapai puncaknya, namun Warti sudah sangat lemas setelah menikmati tiga kali orgasme. Si mbah mengecup kening Warti dan membiarkan Warti terlelap kecapaian. Rupanya mbah bromo tidak tega juga melihat warti yang sudah kewalahan.

“Sudah puas kan ndhuk.. sekarang tidurlah, mbah pamit pulang ya,” kata mbah Bromo sambil berpakaian. Warti tak mampu menjawab perasaan lemas luar biasa menerpanya, ia langsung terlelap.

Sebelum keluar kamar mbah Bromo menyelimuti tubuh Warti dengan sarung. Melihat mbah Bromo akan keluar kamar, Irma segera berlari menuju dapur, ia tahu mbah Bromo pasti mencarinya di sana karena setahu dia Irma sedang masak di dapur menggantikan Warti.

“Belum selesai masaknya bu Irma?,” tanya mbah Bromo saat menemukan Irma di dapur.

“Eh mbah Bromo. Sudah selesai ritual pembersih di kamar pembantu kami?.. oh ya Warti kemana mbah?,” Irma pura-pura berbalik tanya karena ia pun tidak pernah masak apa-apa dari tadi. Irma mencuri pandang ke bagian depan celana mbah Bromo yang masih nampak menonjol. Mbah Bromo sempat kebingungan mau menjawab apa soal Warti, otaknya cepat berputar menemukan ide, ”Oh anu bu, kamar itu sudah saya bersihkan. Tapi Warti sebagai penghuninya harus bersemadi sampai besok pagi agar prosesi pembersihan lebih tuntas,”. 

Mbah Bromo mau pamit pulang, tapi Irma menahannya dan menyuguhinya kopi susu hangat. Keduanya beranjak dan duduk di sofa ruang keluarga.

“Mbah Bromo apa harus pulang malam ini? Maksud saya, kalau istri dan keluarga nggak khawatir, mbah boleh menginap di sini untuk malam ini,” tanya Irma. Saya takut mbah ada apa-apa nanti, kan mas Hendro lagi keluar negri.

“Ehm.. sebenarnya sih ndak apa bu. Saya ndak pulang berhari-hari pun keluarga dan istri ndak akan khawatir, sudah biasa. Tapi ndak enak rasanya kalau nginap di sini, saya sungkan sama pak Hen, bu,” jawab mbah Bromo sambil menyeruput kopi susu.

“Gini mbah.Pak Hendarto sedang ke luar negeri, jadi hanya saya dan Warti yang ada, karena satpam kami sedang cuti. Lagian saya takut sendirian di rumah mbah.. apalagi Warti kan nggak boleh keluar kamar sampai besok pagi. Kalau ada mbah kan jadi ada lelaki yang menjaga,” kata Irma.

Mbah Bromo sebenarnya takut kalau Warti bangun dan bercerita tentang ritual nikmat itu ke majikanya. Namun setelah mengetahui kalau Hendarto tak pulang ke rumah dan hanya ada Irma di situ, pikirannya pun berubah. Ini kesempatan bagus untuk bisa menyetubuhi Irma, pikirnya.

“Hmm.. iya deh kalau begitu. Biar saya menginap di sini, nanti biar saya tidur di sofa ini saja bu,” kata mbah Bromo berusaha tetap sopan. Irma gembira mendengar kesediaan mbah Bromo. Sambil terus mengobrol Irma berusaha mencari cara agar bisa mendapat ritual nikmat dari mbah Bromo seperti yang dilakukan pada Warti. Untuk agresif dan vulgar memintanya dari mbah Bromo, Irma tak mungkin melakukannya. Bagaimana pun ia harus menjaga imejnya sebagai istri pengusaha kaya dan ternama.

“Oh ya mbah. Selain ritual magic, apa mbah bisa mijat? Ini kaki saya kok sering kesemutan ya.. sudah berulangkali ke dokter tapi nggak sembuh juga. Sering ngilu-ngilu gitu mbah,” Irma menyingkap bagian bawah gaun yang dipakainya agar kaki mulusnya dilihat mbah Bromo.

“Emmnh.. sedikit dikit sih bisa bu, permisi ya coba mbah lihat,” mbah Bromo menjulurkan tangan, sementara Irma mengangkat kaki kirinya ke sofa, sambil merapatkan duduknya lebih dekat ke mbah Bromo. Tangan mbah Bromo mulai memijati kaki mulus Irma, mulai tepalak hingga betis. Irma merasakan sentuhan mbah Bromo membuat darahnya berdesir.

“Waduh.. pijatan mbah enak juga ya.. hmm saya sambil tiduran mbah ya biar ototnya lebih rileks,” tanpa menunggu jawaban mbah Bromo, Irma langsung berbaring di sofa. Mbah Bromo menahan nafasnya yang mulai cepat. Klimaks yang belum sempat ia raih dari Warti membuat birahinya kembali memuncak saat melihat Irma berbaring tepat di hadapannya. Tapi mbah Bromo masih saja takut berbuat macam-macam terhadap Irma, takut kalau Irma keberatan dan melaporkannya ke Hendarto.

Mbah Bromo tak hilang akal. Ia terus memijat kaki Irma, dan sedikit demi sedikit memberanikan diri memijat lebih naik ke lutut dan paha Irma, dilakukan berulang-ulang sambil menunggu reaksi Irma.

“Ohmm.. kok saya jadi ngantuk mbah ya..,” kata Irma setelah menguap kecil.

“Kalau ngantuk dibawa tidur saja bu, nanti mbah bangunkan kalau sudah selesai.. Maaf bu, kakinya saya pangku saja ya biar lebih mudah memijatnya,” kata mbah Bromo, Irma hanya mengangguk. Mbah Bromo merapatkan duduknya bersandar di sofa dan menempatkan kaki Irma sekitar lutut ke atas pangkuannya. Tangannya kembali memijat paha Irma. Irma merasakan pijatan mbah Bromo semakin melemah di pahanya, berubah menjadi usapan-usapan. Bongkahan pantat Irma sudah menyentuh paha mbah Bromo, betisnya bisa merasakan sesuatu yang mulai mengeras di dekat paha mbah Bromo, penisnya.

Tangan mbah Bromo semakin berani naik memijat dan menjelajahi pangkal paha Irma, sesekali menyentuh CD Irma juga. Irma berlagak ketiduran agar mbah Bromo lebih berani lagi menyentuh bagian-bagian vital tubuhnya. Mbah Bromo berpikiran Irma benar-benar pulas tertidur dipijati.

“Bu Irma.. bu..?,” mbah Bromo memastikan kalau Irma sudah pulas tertidur. Ia berhenti sebentar seperti memikirkan akan melanjutkan menjelajahi tubuh mulus Irma atau tidak. Irma tak bereaksi, seperti sudah benar-benar tidur.

Dengan sangat pelan mbah Bromo menyingkap bagian bawah gaun Irma sampai ke perutnya, membiarkan paha dan CD Irma bebas terlihat. CD string berwarna biru yang dipakai Irma membuat gundukan daging nikmatnya menyembul keluar. Tangan mbah Bromo perlahan kembali mengusapi paha putih Irma.

Irma merasakan sentuhan-sentuhan lembut di pangkal pahanya, tak lama setelah itu dirasakannya usapan halus di vaginanya yang masih terbungkus CD. Geli nikmat sentuhan jemari mbah Bromo mulai menjalari tubuh Irma.

“Hmmhh.. mas Hen.. mhhh..,” Irma mendesis berpura-pura seolah sedang bermimpi, sambil melebarkan kedua kakinya. Hal itu membuat mbah Bromo merasa mendapat kesempatan emas. Irma sudah benar-benar pulas, pikirnya. Mbah Bromo bergeser ke samping agar wajahnya bisa menemukan selangkangan Irma. Dengan sangat perlahan ia mengamit CD string Irma ke samping menggunakan jarinya sehingga vagina Irma jelas terlihat. Tetap dengan posisi duduk di sopa, ia lalu merunduk menempatkan wajahnya di tengah kedua kaki Irma yang melebar. Seketika Irma merasakan sapuan hangat lidah mbah Bromo di bibir vaginanya, membuat ia menggelinjang kegelian. Irma kembali mendesis sambil menyebut nama suaminya, pinggulnya bergerak-gerak mengimbangi irama jilatan mbah Bromo.

Yakin Irma sudah benar-benar bermimpi, mbah Bromo beranikan diri meluruhkan CD Irma hingga lepas melewati dua kakinya. Akses lidahnya semakin bebas menjelajahi vagina Irma yang mulai membasah. Irma merasakan lidah mbah Bromo menyusup-nyusup di bibir vaginanya, sementara kumisnya menekan di klitoris Irma membuat sensasi nikmat.

“Auhmm.. Irma nggak tahan mas henhh.. pingin ditindih masshhh..,” Irma sudah hilang kendali dilanda birahi. Ia tak ingin cepat klimaks dengan jilatan mbah Bromo, ia ingin klimaks disetubuhi, dihajar penis mbah Bromo.Penis mbah Bromo semakin tegang, tapi ia masih ragu untuk menyetubuhi Irma karena takut Irma terbangun dan mengetahui apa yang dilakukannya. Di lain sisi Irma pun ingin sekali menarik mbah Bromo untuk naik menindih tubuhnya, tapi ia pun khawatir imejnya rendah di mata mbah Bromo. Mbah Bromo masih terus menjilati vagina Irma untuk beberapa lama, sampai akhirnya ia memutuskan untuk lebih berani. Otaknya sudah dipenuhi nafsu untuk menyetubuhi Irma, tapi di ruang keluarga itu tentu tak mungkin karena bisa saja si Warti bangun dan melihat .

Mbah Bromo lalu membopong Irma dengan sangat perlahan, masuk ke kamar tidur utama milik Hendarto dan Irma, lalu membaringkan Irma di atas ranjang.

Setelah berbaring, Irma kembali merasakan mbah Bromo menjilati vaginanya, kali ini lebih bernafsu dan lebih kasar. Tangan mbah Bromo menyusup ke balik gaun Irma dan menggapai payudaranya, meremas-remas dengan penuh biarahi.

“Enghh.. mass Hennhh..,” Irma meliuk-liuk kenikmatan sambil tetap berpura-pura mimpi. Mbah Bromo semakin berani karena yakin Irma sedang bermimpi, ia kemudian melucuti gaun dan Bra Irma, lalu melucuti pakaiannya sendiri. Kaki Irma dikangkangnya, sementara ia mengambil posisi setengah berlutut diapitan kaki Irma. Vagina Irma yang putih kemerahan semakin basah. Mbah Bromo memegangi penisnya dan perlahan mulai menyentuh vagina Irma. Irma mendesis saat kepala penis mbah Bromo masuk ke vaginanya. Pinggulnya diangkat agar penis itu lebih cepat masuk ke vaginanya.

“Ouh.. masss.. ayo masukinnn mas…,” desisnya. Mbah Bromo tetap menahan penisnya di bibir vagina Irma, ia kemudian meniduri tubuh Irma dan mulai menghisap putting susunya. Hal itu membuat Irma merasakan birahi yang puncak dan ingin dipenuhi, pinggulnya semakin naik mengejar penis besar mbah Bromo. Irma merangkulkan kakinya ke pinggang mbah Bromo dan menarik mbah Bromo ke arahnya. Tapi itu tidak berhasil juga, karena mbah Bromo memang sengaja menahan.

Mbah Bromo merangkul tubuh Irma dan mulai menggenjot ujung penisnya keluar masuk di vagina Irma. Irma ingin sekali merasakan penis itu memenuhi vaginanya membuat bibir vaginanya sesak. Dalam kondisi diapit birahi, Irma ingin sekali mengakhiri kepura-puraannya tidur. Tapi ia masih malu melakukannya begitu saja.

“Eh.. mbah.. apa-apaan inih.. ,” Irma pura-pura terbangun dan terperanjat, ia berusaha mendorong tubuh mbah Bromo. Mbah Bromo sempat tersentak karena Irma terbangun dari tidurnya, ia pun mencabut penisnya dan menjauh dari Irma. Sebenarnya mbah Bromo ingin langsung minta ampun dan mengaku khilaf, tapi seketika pikirannya dikalahkan oleh nafsu birahi yang sudah memuncak.

“Diam kamu…, jangan melawan. Ingat suamimu sedang ndak ada, aku bisa berlaku kasar nanti..,” mbah Bromo membentak garang sambil melotot. Mbah Bromo berdiri di sisi ranjang sambil bertolak pinggang memandang Irma.

“Ampun mbah.. jangan melukai saya mbah..,” Irma merunduk. Kali ini perasaan Irma tak karuan, ada rasa takut dengan kemarahan mbah Bromo, tetapi ada rasa yang mendesak ingin disetubuhi secara kasar oleh penis besar si mbah.

“Baiklah.. aku tak akan melukai wanita secantik kamu Irma. Tapi, kamu harus melayaniku sampai puas dan berjanji tidak akan membocorkan peristiwa ini ke suamimu. Apalagi kalau lapor polisi.. kamu dengar itu?,” bentak mbah Bromo garang. Hatinya senang karena sudah berhasil menguasai keadaan. Sebelum Irma berkata apa-apa, mbah Bromo langsung menerkam tubuhnya. Bibir Irma yang ranum dilumatnya, sementara tangannya meremasi susu Irma. Irma pura-pura memberontak kecil tapi sesungguhnya menjadi sangat gairah saat lidah-lidah mbah Bromo menyusup masuk memainkan lidahnya, sementara tangan mbah Bromo meremasi susunya.

“Engghhh…jangan mbah..,” rintih Irma berpura-pura seolah tak ingin diperkosa. Mbah Bromo terus mencumbui Irma, kepalanya lalu turun ke vagina Irma dan kembali menjilatinya, menghisap klitorisnya, dan menyusup-susupkan lidah ke liang vaginanya. Itu berlangsung terus menerus dan membuat Irma nyaris mencapai orgasmenya.

“Akhh.. hmmm…mbah.. ampunhhh.. sudah mbah…akhsss,” Irma menggelinjang tak karuan menjepit kepala mbah Bromo dengan dua pahanya. Mbah Bromo mengerti Irma sudah hampir klimaks, karena kedutan kecil mulai terasa di vaginanya. Ia menghentikan jilatannya dan menindih tubuh Irma sambil menempatan ujung penisnya di bibir vagina Irma.

“Ouh..,” Irma menjerit kecewa karena orgasme yang gagal diraihnya. Tapi ia malu untuk menyambut ujung penis mbah Bromo yang sudah menempel di bibir vaginanya.

“Kenapa Irma? Sudah ndak tahan ya..,” mabah Bromo menggoda.

“Ampun mbah..,”

“Jawab dulu.. kamu ndak tahan kan? Mau yang ini..,” mbah Bromo memasukan ujung penisnya ke vagina Irma membuat Irma kembali merintih dan mendesah.

“Ennghhhss..,” desis Irma merasakan penis mbah Bromo di vaginanya.

“Ayo sekarang kamu goyang pinggulmu biar ******ku masuk ke pepekmu.. ayo cepat lakukan,” kata mbah Bromo.

“Ampunhh mbah… ouh.. ahhkkss,” bibir Irma minta ampun, tetapi bibir vaginanya justru memberi akses pada penis mbah Bromo lebih jauh. Irma mengangkat pinggulnya untuk lebih merasakan penis mbah Bromo masuk, tetapi mbah Bromo diam pematung. Hal ini membuat gairah Irma semakin terpacu, ia bergoyang semakin liar seakan meminta kenikmatan yang lebih nyata dari penis mbah Bromo.

Mbah Bromo mulai tak bisa mengontrol birahinya, meskipun ia masih ingin mempermainkan libido Irma. Jepitan vagina Irma diujung penisnya dan goyangan pinggul Irma naik turun membuat mbah Bromo ingin segera menggenjot Irma.

“Ouhhkk.. hmmm akkkss mbahhh,” Irma melenguh keras saat merasakan secara tiba-tiba mbah Bromo menekan penisnya memasuki vaginanya secara utuh. Ia menggoyang pinggulnya semakin kencang menyambut penis itu, vaginanya terasa sesak dan nikmat.

Mbah Bromo kembali diam mematung meski penisnya sudah masuk utuh ke vagina Irma, sementara desisan birahi Irma semakin menjadi mengiringi goyang pinggulnya.

“Ohhgg.. sekarang gimana Irma.. enak apa ndak?,” mbah Bromo juga merasakan kenikmatan digoyang Irma.

“Hmm.. ampunhhh mbahh..,” Irma tak peduli lagi meskipun mbah Bromo diam tak bergerak, ia tetap menggoyang pinggulnya mencari rasa nikmat.

“Ayo jawab. Enak apa ndak? Kalo ndak enak aku cabut ******ku,”

“Janganhhh mbahh…akhss.. nikmat mbahh..,” Irma tetap meliuk-liuk menahan birahi.

“Mau diterusin apa dicabut nih?,” kata mbah Bromo merasa diatas angin.

“Oughh.. terusin mbah..,”

“Terusin apanya hah??,”

“Entotin mbahh… terusinhh entothinnn.. ahhhsss entot mbah..,” Irma meliuk-liuk kencang menunggu penis mbah Bromo menguak vaginanya. Tanpa sadar Irma menjawab dan memohon dengan lugas apa yang diinginkannya tanpa ada rasa malu lagi. Yang ada hanyalah minta dipuaskan, karena sekian lama memendam birahi sejak melihat ****** mbah bromo beberapa hari yang lalu.

Mendengar jawaban menyerah dari Irma, mbah Bromo lalu mulai menggenjotkan peninsnya keluar masuk di vagina Irma. Secara liar bibirnya menghisap bibir Irma, leher dan susu Irma juga, sementara penisnya dipacu mulai keras menghajar Irma.

“Ahh Irmaa.. nikmat pepekmu.. ahhh,”

“Ungghhh.. iya mbahh.. akhsss terus entotinnnhhh.. ****** mbahh…,” Irma semakin tak terkendali. Hilang sudah harga dirinya menjaga imej sebagai istri pengusaha ternama. Yang ada kini hasrat meraih kepuasan dari penis besar mbah Bromo.

Irma merasakan penis itu intens keluar masuk memenuhi vaginanya, lama kelamaan kedutan-kedutan mulai terasa di vaginanya dan hawa panas mengumpul di sekitar pangkal pahanya, pertanda ia segera mencapai klimaksnya.

Mbah Bromo mengubah posisi, kaki Irma diangkat ke bahunya sementara ia bertumpu pada ke dua tangannya. Irma merasa kakinya seolah menggapai udara, dalam posisi begitu penis mbah Bromo terasa menyentuh hingga ke dinding rahimnya.

Mbah Bromo terus menggenjot Irma semakin kencang dan cepat, kenikmatan vagina Irma membuatnya merasa melayang. Seumur hidupnya baru kali ini menyetubuhi wanita cantik dan kaya, menambah sensasi yang ia rasakan.

Penis panjang mbah Bromo yang memenuhi vagina Irma membuat kontraksi di dinding vagina Irma tertahan, menyebabkan cairan kenikmatan Irma mengumpul tak tersalur.

Irma sudah merasakan kenikmatan yang luar biasa kedutan semakin terasa, namun tak tuntas-tuntas. Kenikmatan terasa mengumpul makin tinggi dihentak penis mbah Bromo.

“Enghhh.. aaahhhkksss mbaahh… oughhh…,” Irma sudah tak kuat menahan kenikmatan itu, tekanan nikmat serasa ingin kencing melandanya, sementara mbah Bromo terus memacu vaginanya.

Mbah Bromo menghujamkan penisnya keluar masuk semakin keras dengan seluruh tenaganya, ia merasakan sudah hampir tiba pada klimaksnya. Tak lama kemudian secara tiba-tiba mencabut penisnya dari vagina Irma. Kaki Irma ditahannya dengan kedua tangan, sambil ia berlutut di hadapan Irma. Nafas keduanya semakin memburu, desahan dan desisan kenikmatan silih berganti.

“Aaahhkkksss… auhh…. Ouhhhh….,” Irma menjerit kenikmatan. Saat mbah Bromo mencabut penisnya, saluran cairan kenikmatan Irma bobol. Vaginanya menyemburkan cairan kenikmatan itu sampai menyemprot ke perut dan penis mbah Bromo yang berlutut dihadapannya. Cairan Irma menyembur beberapa kali, kedutan klimaks dirasakan Irma sangat lama bersamaan dengan kejang yang melanda seluruh tubuhnya.

Mbah Bromo puas bukan main melihat Irma merasakan sensasi kenikmatan yang pasti belum pernah ia rasakan dari suaminya.

Mbah Bromo kembali menghujamkan penisnya ke vagina Irma, menggoyangnya lagi beberapa kali sampai akhirnya ia mencapai klimaksnya juga.

“Ouhhhgg Aaahhrrggg,” mbah Bromo mencabut penisnya, dan menyeburkan spermanya tumpah di perut sampai susu Irma, tubuh mbah Bromo menegang sambil tangannya mengocok penisnya agar spremanya tuntas tertumpah.

Mbah Bromo luruh di samping tubuh Irma yang tergolek lemas, nafas keduanya berangsur pelan dan kembali normal. Irma diam tak bersuara. Ia tiba-tiba merasakan malu luar biasa setelah tergolek tak berdaya menikmati sisa-sisa kenikmatan seksual bersama mbah Bromo, paranormal yang dipekerjakan suaminya.

 

PASANG IKLAN ANDA DISINI

PASANG IKLAN ANDA DISINI